oleh

Dari “Si Tukang Beton” hingga Pemimpin Umat: Jejak Pengabdian Erman Suparno untuk Indonesia

JAKARTA – Politik yang bersih dan tata kelola pemerintahan yang berintegritas menjadi warisan utama yang ditinggalkan Erman Suparno selama menduduki kursi kekuasaan.

Ketegasannya dalam berpolitik diuji saat ia melakukan pembersihan internal di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, termasuk mengembalikan ratusan miliar rupiah rekening liar ke kas negara.

Kini, berbekal pengalaman panjang menghadapi benturan kepentingan di birokrasi, sang mantan menteri membawa gaya kepemimpinan strategisnya ke ranah keumatan demi memperkuat peran politik kebangsaan yang moderat dan inklusif.

Perjalanan hidup Dr. Ir. H. Erman Suparno, MBA, M.Si. menjadi gambaran nyata bahwa kerja keras, integritas, dan pengabdian mampu mengantarkan seseorang menapaki berbagai peran penting bagi bangsa. Dari seorang mandor bangunan, ia menjelma menjadi teknokrat, menteri, tokoh organisasi keagamaan, hingga pegiat pelestarian budaya Indonesia.

Lahir pada 20 Maret 1950, Erman Suparno mengawali kariernya dari dunia konstruksi. Berbekal ketekunan dan kemampuan manajerial, ia mendapat kesempatan memperdalam ilmu manajemen konstruksi di Jepang pada 1990. Pengalaman tersebut mengantarkannya dipercaya sebagai Direktur PT PP Taisei Indonesia Construction.

Baca Juga  Tasyakuran HUT ke-3 Koarmada RI: Santunan, Penghijauan, dan Apresiasi Prajurit

Di bawah kepemimpinannya, sejumlah proyek prestisius berhasil diwujudkan, di antaranya Kompleks Bidakara, Gedung BII Thamrin, hingga Hotel Kempinski Jakarta. Kiprahnya yang panjang di dunia konstruksi membuat Erman dikenal luas dengan julukan “Si Tukang Beton”, sebuah sebutan yang mencerminkan kedekatannya dengan industri pembangunan nasional.

Bekal pengalaman sebagai teknokrat kemudian menjadi modal saat memasuki dunia politik melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Puncak pengabdiannya di pemerintahan terjadi ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menunjuknya sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada Kabinet Indonesia Bersatu periode 2005–2009.

Amanah tersebut datang di tengah situasi yang tidak mudah. Pada awal masa jabatannya, Erman menghadapi gelombang demonstrasi buruh terkait penolakan revisi Undang-Undang Ketenagakerjaan. Ia menggambarkan kondisi itu layaknya ketiban awu anget, menerima amanah ketika situasi sedang memanas.

Di tengah tantangan tersebut, Erman melakukan berbagai pembenahan di internal kementerian. Salah satunya adalah penertiban rekening liar bernilai ratusan miliar rupiah yang kemudian dikembalikan ke kas negara sebagai bagian dari upaya memperkuat tata kelola pemerintahan yang bersih.

Baca Juga  Pelaku Utama Kasus Kerusuhan Antar Suku di Distrik Dekai Berhasil di Tangkap

Di tingkat internasional, kiprahnya mendapat perhatian melalui upaya penyelamatan sejumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia yang menghadapi ancaman hukuman mati. Ia juga menjadi salah satu pelopor pengiriman tenaga perawat profesional dan caregiver Indonesia ke Jepang melalui skema Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA), yang membuka peluang baru bagi tenaga kerja Indonesia di sektor profesional.

Pemikirannya mengenai pembangunan sistem ketenagakerjaan nasional turut dituangkan dalam buku National Manpower Strategy. Atas berbagai kontribusi tersebut, Erman Suparno dianugerahi tanda kehormatan Bintang Mahaputera dari negara.

Di luar pemerintahan, pengabdian Erman tidak berhenti. Ia dikenal sebagai sosok yang memiliki perhatian besar terhadap pelestarian budaya bangsa. Kepercayaan untuk memimpin Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) secara aklamasi menjadi salah satu bentuk komitmennya menjaga warisan budaya Nusantara.

Baca Juga  Pembangunan Digital: Lembaga Desa Digital Gelar Musyawarah Nasional II di Cigondewah

Tak hanya itu, Erman juga memiliki kedekatan dengan dunia seni dan hiburan. Melalui Yayasan Samiaji yang didirikannya, ia menjadi pembina grup lawak legendaris Srimulat serta Ketoprak Humor pada awal tahun 2000-an, sebagai bagian dari upaya mempertahankan seni pertunjukan tradisional Indonesia.

Memasuki masa pengabdian setelah tidak lagi berada di kabinet, Erman Suparno aktif di bidang keumatan. Kepercayaan masyarakat kembali diberikan melalui keterpilihannya secara aklamasi sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) untuk periode 2026–2031.

Di bawah kepemimpinannya, IPHI diharapkan terus memperkuat peran organisasi dalam membangun ukhuwah, meningkatkan kualitas pembinaan jamaah haji, serta berkontribusi terhadap pembangunan bangsa melalui nilai-nilai keislaman yang moderat dan inklusif.

Perjalanan Erman Suparno menunjukkan bahwa pengabdian tidak dibatasi oleh satu profesi. Dari dunia konstruksi, pemerintahan, kebudayaan, hingga organisasi keagamaan, ia menorehkan jejak yang memperlihatkan bagaimana pengalaman, kepemimpinan, dan kepedulian sosial dapat berjalan beriringan dalam mengabdi kepada bangsa dan negara.***

News Feed